Press Release: Prototype Mobile Infusion Bag

Press Release: Prototype Mobile Infusion Bag

PRESS RELEASE

Sebuah prototype alat yang dinamakan Mobile Infusion Bag diciptakan oleh doctor keperawatan dari Fakultas Keperawatan Universitas Riau yaitu Ns. Bayhakki, M.Kep, Sp.KMB, PhD. Alat ini berfungsi  untuk menjaga kelancaran aliran infus pasien saat pasien melakukan mobilisasi atau aktivitas saat perawatan di rumah sakit. Selama ini jika pasien yang terpasang infus turun dari tempat tidur dan bergerak ke kamar mandi untuk buang air, menggosok gigi atau melakukan aktivitas lainnya aliran infus pasien akan macet saat pasien kembali ke tempat tidur. Dengan alat Mobile Infusion Bag ini hal tersebut tidak akan terjadi lagi karena alat ini akan mempertahankan kelancaran aliran infus selama pasien turun dan beraktivitas di luar tempat tidur. Dengan adanya alat ini diharapkan keluhan pasien terhadap nyeri berkali-kali karena pemasangan infus akibat macet akan berkurang, biaya yang dikeluarkan selama perawatan juga dapat ditekan, dan yang terpenting adalah kepuasaan pasien terhadap pelayanan kesehatan akan semakin meningkat.

Selasa, 31 Juli 2018 bertempat di hotel Ayola First Point Panam dilakukan kegiatan Focus Grup Discussion (FGD) sebagai bagian dari kegiatan hibah Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT) dari Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kementerian Ristekdikti tahun 2018. Program hibah ini difasilitasi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Riau. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka mendiskusikan dan mendapatkan masukan dari para pakar, akademisi dan praktisi terhadap inovasi alat yang diciptakan oleh dosen lulusan S3 di Thailand ini telah mendapatkan status granted hak paten dari Pemerintah. Berkat alat ini dosen yang pernah mendapatkan penghargaan dari Prince of Songkla University Thailand ini berhasil mendapatkan hibah program CPPBT dari Kemenristekdikti tahun 2018 ini yang merupakan satu-satunya dari Universitas Riau yang menerima hibah CPPBT tahun ini. 

FGD ini mengundang pakar dari ITB dan juga dari Universitas Riau serta para praktisi perawat dari berbagai rumah sakit di Pekanbaru dan dari akademisi yaitu perwakilan dosen. Dengan adanya FGD ini diharapkan juga perawat dapat membuka wawasannya tentang inovasi yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah yang ditemukan dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien.

(85)

Related Articles

Close